Singkatnya, kau mencoba menyalakan api yang seharusnya gelap bahkan dalam seruang mimpi.
Aku tak mau menjadi minyak ketika ada yang bermain api.
Aku tak mau tersambar api dengan kesederhanaan minyak, lalu terluka dan lenyap, tersisa asap-asap duka.
Aku tak mau menjadi seperti debu sehabis bermain api.
Karena abu adalah kalah, dan kalah adalah perihal lemah.
Jika kau tetap api, jangan salahkan semesta yang buatku jadi sedingin air.
Biar kusiram kau hingga padam, lalu hanyutkanmu ke dalam malam.
Agar kau kembali ke benar, tak meronta dan menyala.
Jangan ulangi ‘tuk berapi.
Terinspirasi dari penolakan perselingkuhan
Jika kau beri aku diam, maka ‘kan ku ucap satu kata.
Jika kau beri aku satu kata, maka ‘kan ku teriakkan dua kalimat.
Bukan perihal melawan atau lebih, tetapi perkara memuja aku ingin juara.
Jika kau akan jatuh, maka kuingatkan pada siapa kau berpegang tangan.
Jika kau ingin mabuk, ku bawakan segelas air agar kau tak kehausan.
Bukan aku ingin sok tahu, tetapi aku kenal betul tingkahmu.
Jika kau meledak-ledak, maka aku ‘kan berjalan satu langkah ke depanmu agar kau bisa mendorong dan menjatuhkanku dengan keras.
Jika kau pulang larut malam, maka wajahku yang selalu menghadap mata kesal ayahmu.
Bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi membuang air mata dan kecewa yang kau punya.
Sudah sejauh ini ternyata, ya, sungguh jauh…
Jika kau mati, maka aku tiada.
Tiada kata-kata yang memotret lakumu, lagi melantunkan parasmu.
Kata-kataku adalah niatku, paling tidak itu.
Jika Tuhan tak memberi, maka tak ‘kan ku sesali bait-bait sebelum ini.
Terinspirasi dari renungan sore
Maaf sayang, bukannya kemarin aku meninggalkanmu, tapi aku terlalu lelah untuk melayani gairahmu.
Bukan maksudku ‘tuk buatmu cemburu, apalagi dengan angin malam atau sapaan orang ketika ku bangun di terang siang.
Mari kita perbaiki ini.
Aku belum lupa bagaimana cara mencumbumu, sayang.
Masih tertata di otakku tentang merayu, mencium, dan membelai di tiap-tiap waktu.
Kurasa ini masih jadi candu ketika aku ingin diuji atau waktu-waktu kosong di mana tak ada air yang tumpah di dahiku.
Kucium keningmu yang kini mengeras… oh atau sejak dulu? Kini pun berdebu, judulmu masih perkasa dengan jubah emas menyala-nyala.
Belaianku pasti mengarungi tiap-tiap helai halaman yang lembut dan tipis, meski agak menguning aku tetap luluh ‘tuk jadi sinting.
Ah, jangan lihat ke lain mata, kita nikmati ini berdua saja, biar hanya cahaya yang menjadi sahabatku dalam kemesraan kita.
Aku pernah berhenti untuk menjelajah jiwamu, tapi aku batasi dengan tebal hasratku, bukan mau berkhianat, tapi manusia lemah sepertiku butuh istirahat.
Maaf, aku harus berurusan dengan air panas, bubuk kopi, dan sedikit manis sepertimu.
Jangan dekat-dekat dengan kami dulu, aku takut kopiku jatuh dan memberi tanda pada kulitmu, sayang.
Setelah ini mari menggeliat lagi, dengan kacamata, cahaya, dan sebongkah tenaga.
Kucumbu dirimu, sampai kata-katamu usai.
Terinspirasi dari membaca buku yang usang
Kami adalah orang-orang lelah dan bosan, tercipta dari kertas, meja, dan layar-layar berwarna.
Menikmati jalan yang berhenti karena cahaya amarah untuk berhenti, terserah kau ikuti atau kau malah diikuti.
Asap mengepul dari lubang-lubang jahat menghitam, sampai kami pusing meladeninya.
Dua ratus detik adalah neraka bagi kami.
Kantuk sudah menghujam keras di pelipis lalu menyembah pada kelopak mata yang tipis.
Suara-suara garang sudah dipesan dari pijakan atau genggaman tangan.
Pasukan kami siap menerjang seruang lapang yang tadi dilalui musuh berarah pulang.
Nol, daun menyala hanya tiga puluh delapan detik.
Rantai menyentak, garis perang terlewat menuju sarang.
Ada pula yang berkomentar payah dengan lemah, atau menyerang dengan kejut-kejut berisik.
Kami keluar, kami pulang.
Selamat berjuang kawan belakang.
Terinspirasi dari lampu merah Jl. Djuanda
Apa yang ia beri saat semua mendengar jerit dari mesin berkotak abu-abu?
Sebelah sini terlalu terang, apa lagi dengan layar bernoda, masih terlalu terang.
Tidakkkah ia merenung bahwa sebelah kiri adalah gelap yang terlelap?
Pantaskah ia mengangguk atau meminta maaf pada kursi bermeja?
Minoritas, itu yang ia jerat, lagi-lagi di sebelah terang.
Jiwanya terbagi untuk cahaya dan kantuk mengamuk.
Kelam bukan tirai pada lubang-lubang jendela bening, sampai mereka terang.
Garis bergeser untuk dinding, tapi jadi satu… tapi terpisah.
Apa ia tabah?
Jelang senja baru ia menyala.
Terinspirasi dari Rapat Kerja Terbuka BEM IKM Psikologi 2013
Batasku hanya segaris putih, entah timbul atau merata.
Rabaku hanya pada jendela, naik turun kehendak penguasa.
Dari batas nada dan raba suara, aku bukan meminta.
Ini sebuah jalan panjang dari kegelapan.
Tongkat ini mataku, lagi kakiku, atau tanganku.
Mengetuk hati di sekitar lampu merah yang marah.
Pada malam yang kering atau pagi yang basah.
Aku selalu berdendang tentang kepastian, bukan kemuraman atau sekadar harapan.
Kusajikan nada-nada liar yang tak sumbang, agar kalian ikhlas menyumbang.
Biar mataku tak bicara, biarkan ia diam, biar jemari dan suara yang berkarya.
Terinspirasi dari pengamen berkebutuhan khusus di jalan-jalan Kota Bandung
Kami berempat masih berdiri sembari tengok sana-sini, cukup lama jika kami tunggu sedari tadi.
Sore ini langit terlalu lama menangis, hingga kami harus memijak pada air matanya yang menggenang.
Kami seperti di podium, naik dan turun, entah mengapa seorang gadis dari kami menjadi nomor satu, tapi berada di ujung kiri.
Ah sudah, jangan dipikirkan… Lebih baik menunggu lagi.
Mari berpikir lagi siapa yang akan menuntun kami ke tempat kering, agar kami bisa tidur atau mengerjakan sebuah tulisan kewajiban.
Seragam kami masih sama, putih merah, hanya kami menjinjing sepatu hitam kami yang takut basah, yang di kepala segera ada besok bagaimana?
Mereka lewat dengan angkuh atau merendah, cepat-cepat ingin pulang sepertinya, begitu pun kami, kami rindu sambut peluk ibu.
Kami ingin ke sana, tak adakah yang melambat atau berhenti ‘tuk biarkan kami melintas, tak semudah itu kawan.
Dari balik kepulan asap ayam bakar yang sedap, seorang tua berani ke depan.
Kami kira untuk mengambil arang yang jatuh dan jadi bara.
Ia menyambangi ujung kanan dari kami langsung melempar senyum seolah mendapat rezeki halal yang mendadak banyak.
Ternyata, ia hanya mau bantu kami seberangi ini yang terlihat tak berdaya dan diam.
Kami sambut dengan langkah ke depan, setidaknya seorang dewasa lebih dihormati oleh orang-orang dewasa berpeluh sore yang lelah.
Padahal jubahnya hanya kaos oblong bolong.
Sampai kami di seberang, selamatlah empat anak sekolahan ini ‘tuk berpulang pada gang kecil yang diguyur air selokan.
Ibu, kami pulang, seorang tua, kami ‘kan beli ayam bakarmu, nanti.
Dengan kasih, seberangkan kami.
Terinspirasi dari empat anak yang ingin menyeberang jalan
Terlalu pagi untuknya bila ia harus beranjak dari loteng rumah sempit di selatan monumen tua.
Lagi, matahari belum keluar dari kamarnya, masih meringkuk setelah semalam hujan mengamuk.
Ia masih sama, dengan lukanya yang menganga karena sabetan ulahnya sendiri.
Sudah bosan ia berbaring, ingin menjemput udara yang kodratnya menjadi wilayah tempurnya.
Sedikit melayang, lalu jatuh lagi, kembali ke tempat yang sama.
Paling tidak ia menemukan cara untuk kembali mengepakkan sayap, tidak seperti yang lain, menyerah kemudian mati.
Kembali pada waktu yang lalu, ia ingat bagaimana ibu mengajarkannya sebuah keteguhan dalam ketidakberdayaan.
Lalu tentang kesabaran di antara beragam cobaan, serta semangat dalam keputusasaan.
Ia kumpulkan energi untuk esok hari, belum tau apa yang akan ia lewati semalam ini.
Mungkin untuk berdoa atau hanya memejamkan mata sebelum rembulan kembali sempurna.
Kehidupan masih ingin melihatnya, alam masih ingin mengujinya, terang menjemput ketika ia masih berselimut.
Ayo lekas bangun!
Kesempatan ini tidak bisa dilewatkan dengan hanya bersantai sampai siang.
Di ujung atap ia melihat langit yang jadi citanya, meyakinkan udara bahwa ia pantas untuk menjadi raja.
Sekali lompatan lalu… terbang.
Tak jatuh, ya tak sedikitpun gerakan yang buat ia akan jatuh.
Sekarang ia melayang, menjelajah dunia yang ditawarkan Sang Pencipta, begitu luas sampai tak terbatas untuk seekor burung kecil.
Sampai ia lelah mungkin takkan terlihat semua bagian kecil dari keindahan yang tersedia ini.
Ia belajar untuk ini, sebuah harga yang dibayar bukan dengan dedaunan kering.
Terinspirasi dari satu kata ‘belajar dari Faldo Maldini
Filed under 100puisi1kata
Aku belum berhenti, belum berhenti untuk lelah, belum lelah untuk terlalu mati.
Diamku bukan gugur daun randu yang jauh jatuh di selimut lumut.
Bicara dengan mata, melihat tanpa berkata, aku terpaut dalam kerusuhan semalam.
Bukankah kita selalu dalam satu?
Apa itu canda, luka, ceria, duka, atau dingin seperti sepatu basah di subuh musim hujan.
Bukan duri atau tembok tinggi yang membuat henti, keteguhan hati yang buat kita berlari.
Kita melaju meski waktu kian memaku.
Sambil menimang keikhlasan dalam setiap laku, apa yang benar itu yang baku.
Tanganku, tanganmu, seperti benang pada katun, terikat, terjalin kuat.
Sejauh ini aku memang melemah, menjadi pincang atau kaosku yang usang.
Mengupas kulit-kulit kering, pulang dengan kerinduan rumah.
Ini tak layak untuk kuinjak ‘tuk beristirahat, walau sejenak.
Aku ingin terus berlari, lalu terbang, melayang, menyebarkan kebaikan untuk dunia yang mereka nikmati dengan batas-batas keadilan.
Terimakasih telah beri ku pijakan, bergegas melintas di udara batas.
Terinspirasi dari setahun ini